Hari ini gue terlalu malas nulis pake bahasa Inggris. Bukannya ngesok-sokan ye.. tapi kan emang gue biasa nulis pake bahasa Inggris, versi gue, yang tidak sesuai dengan kaidah KBBI (Kamus Besar Bahasa Inggris). Walaupun hari ini capeknya minta ampunan Dewa Neptunus gue tetap memutuskan untuk blogging, karena hasrat gue buat nulis betapa suck-nya hari ini lebih membara daripada bercinta................ dengan kasur.
Oke. Kenapa gue bilang hari ini zuper zuck? (inget dengan Z bukan S). Pertama, hari ini lagi-lagi gue gagal buat bangun jam 5. Lagi-lagi gue bangun disaat tetangga sebelah men-stater-kan mobil dieselnya yang bunyinya kayak mesin diesel di pasar sekaten plus dengan asapnya yang baunya bisa bikin lo sesak nafas hanya dengan hitungan 3 detik. Jadinya gagal deh rencana gue buat belajar di subuh hari. Yoyoyyy meeen... gue emang berniat buat belajar ya kali aja ilmu gue semalem ilang semua. Maklum gue kan mahasiswa SKS (Sistem Kebut Semalam).
Kata Gigi, 11 Januari itu... 'Sebelas januari bertemu, menjalani kisah cinta ini....' kisah cinta kepala lo kebentur truk tronton?! Kisah cinta gue hari ini gue bercinta dengan 3 sekaligus, bukan 1 men gila gak sih? Iya gue bercinta dengan ujian 3 mata kuliah dalam sehari, sekaligus. Sebagai pembuka ujian hari ini adalah Hukum Bisnis. Demi Patrick Star yang berwarna pink, mata kuliah satu ini bener-bener ngabisin sisa memori di otak gue. Sang Maha Dosen menuntut mahasiswanya untuk menjawab dengan bagan terstruktur komprehensif, bukan dengan narasi. Nah loh apaan tu? Gue juga gak ngerti makanan macem apa itu. Tapi, gue sukses melewatkan ujian yang satu ini, 3 soal terjawab dengan indah dan rapinya. Karena apa saudara-saudara? Tiga pengawas gue pada sibuk sendiri. Pengawas pertama dan kedua sibuk saling curhat entah apa yang mereka perbincangkan. Mungkin masalah betapa mahalnya harga cabai sekarang. Sedangkan pengawas ketiga, lagi asik... asiiiikkk... BBM-an guyssss! What? BBM-AN!! MANA HAPENYA GAK DI SILENT PULAKKKK! Tingtung.. tingtuuuuunggg... Gue perlu konsentrasi ekstra buat nulis. Bahkan hanya untuk sekedar menulis huruf 'a'.
Setelah berjuang ekstra keras menjawab soal (yang entah gue juga gak ngerti apa maksudnya) ditengah-tengah berisiknya ibu-ibu pengawas yang lagi pada arisan, gue bisa keluar keras dengan tersenyum puas dan tertawa lebar selebar bibir Helga Pottacky. HAHAHA. Eits, tapi penderitaan gue belum berakhir sampe disitu. Guepun duduk dengan perasaan lega sambil berbincang dengan teman-teman gue. Tapi gue berasa ada sesuatu yang mengganjal, yang entah itu apa membuat gue merasa gue perlu cek tas. Lalu gue obrak-abrik tas gue mencari sesuatu yang gue juga gak tahu itu apa. Buku, tempat pensil, dompet semua gue keluarin sampe akhirnya gue inget kalo gue gak bawa 'senjata' untuk ngerjain ujian Akuntansi Biaya nanti.
Inilah penderitaan gue yang kedua, 'senjata' gue ketinggalan! That's so fufufu! Padahal ya gue uda siapin semalem dengan penuh perasaan dengan penuh senyum kemenangan. Gue siapin sambil membayangkan betapa indahnya ujian Akuntansi Biaya besok. Dan itu semua sia-sia. 'Semuanya sia-sia dan tak berartiiii laaaagiiii' T_____________T. Dan gue gak mungkin masuk ke kelas tanpa senjata rahasia itu. Ibaratnya nih ya, tentara kalo mau perang bawa apa sih kalo bukan senjata untuk melindungi diri? Begitu juga gue, karena senjata itu isinya resep rahasia Tuan Krab. Nah kalo gue masuk ke medan perang tanpa senjata sama aja gue bunuh diri tanpa syarat kan? Tapi untungnya takdir gue bukan mati di medan perang Akuntansi Biaya, dengan segala cara Dia membantu hamba-Nya yang benar-benar di ambang kematian. Astagfirullah.
Dengan pede maksimal gue masuk ke medan perang. Begitu pengawas membagikan soal dan lembar jawab lalu gue dengan kekuatan super ngerjain soal ujian tersebut yang memang gue lancar bisa jawab. Tapi kesialan gue gak berhenti disitu aja. Nampaknya malaikat pembuat sial masih betah bersandar di pundak gue. Seorang pengawas jalan sambil bawa absensi. Beliau menyodorkan absen tersebut. *mata membelolok* di nama gue tertulis: absen kurang. HELL-HELL-HELL-IKOPTER!
Nia : Lho Pak.. kok absensi saya kurang? Padahal saya tidak masuk hanya dua kali.
Si Bapak : Wah saya juga tidak tahu, Mbak.
Nia : Terus bagaimana Pak? *muka memelas*
Si Bapak : Saya kan hanya bertugas mengawasi ujian, masalah absen tanya pengajaran saja Mbak.
Rasanya gue pengen jambak-jambak rambut pegawai pengajaran yang semeleketek itu. Gue emang gak masuk kuliah tiga kali (di kampus gue absen tanpa keterangan maksimal 2kali), tapi yang terakhir karena gue sakit dan ada surat ijinnya walaupun nyusul plus uda di konfirmasi dosen pengampu.
Gara-gara kejadian itu pede maksimal gue melorot drastis jadi pede super duper minimal. Gue berusaha keras nginget cara menghitung EOQ dan embel gedesnya itu. Pokoknya asal tambah, kurang, bagi, dan kali angka. Tapi Tuhan Maha Adil, ingetan gue cling sejernih kaca. Dan setelah ujian Akuntansi Biaya buru-buru gue ke ruang pengajaran bareng temen gue yang juga bermasalah dengan 'absen kurang'. Guepun jalan cepat secepat kilat, kalau di film kartun mungkin muka gue uda merah dan kepala gue mengeluarkan asap yang artinya gue siap untuk menyantap pegawai pengajaran tersebut bulat-bulat.
Nia : Saya mau mengurus masalah absen, Pak.
Pegawai Pengajaran (PP) : Mata kuliah apa mbak?
Nia : Akuntansi Biaya hari Kamis jam 07.30
PP : Dosennya siapa ya mbak?
Nia : Ibu M*****.
PP : *nyodorin buku absensi*
Nia : Ini Pak saya kan memang tidak masuk tiga kali, tapi yang satu kali itu saya sakit dan ada surat keterangan sakitnya Pak.
PP : Suratnya mana mbak?
Nia : Kan waktu itu sudah saya lampirkan di buku absensi
PP : Ya gak bisa gitu mbak, kan harus di konfirmasi dulu dengan dosen pengampu blabla... blabla
Nia : *dnglsbrlbfalblb%&^@*&G* sudah di acc sama Ibu M***** Pak, ini buktinya.
Dan Bapak itu tetep gak percaya, padahal jelas-jelas si Ibu dosen uda tanda tangan bukti beliau sudah mengkonfirmasi surat ijin sakit gue. Untungnya si Ibu lewat depan pengajaran dan langsung gue stop sebagai barang bukti untuk menyerang si Bapak pengajaran yang ngeyelnya minta ampun. Si Ibupun menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Ibaratnya gue adalah anak yang dituduh mencuri pakaian dalam di sebuah departement store, si Bapak adalah polisi brewokan nan gendut yang kejam, dan si Ibu dosen adalah saksi mata bahwa gue tidak melakukan tindakan tersebut. Cukup sekian.
Aaaaah leganya! Pengen gue kecup-kecup tuh ibu dosen tercinta, ibu cantik deh. ;)
Cukup sekian kesialan gue di hari ini. Kalo kebanyakan bisa nyaingin Squidward yang selalu sial gara-gara Spongebob. Masih ada satu hal lagi yang menurut gue ini aneh tapi tidak termasuk dalam kategori kesialan. Setelah berkutat dengan kejadian yang memang membuat sport jantung, ujian terakhir untuk hari ini gue bisa bernafas dengan normal selayaknya manusia. Gue hanya perlu fotokopi-an materi dan nalar gue untuk menjawab soal-soal nalar yang kadang memang tidak bisa dinalar. Tapi kali ini bener-bener beda. Setelah sukses bin lancar ngejawab soal nomer satu sampai lima sampailah gue pada soal nomer enam, begini soalnya:
Apa arti ungkapan "The Man behind Gun, The Main behind Man"?
*penonton melongo*
*krik krik kriiik*
*meoooww*
*auuuuuu*
Gue bener-bener ngakak (dalam hati tentunya) waktu baca soal itu. The man behind gun, bukankah laki-laki memang punya senjata? Senjata yang membuat para wanita di mabuk kepayang. Maksud gue every man has the unique personality inside, that's man guns right? Lalu maksud dosen gue buat soal itu apa coba? Lalu 'gun' apa yang beliau maksud? Bukan 'gun' yang buat dordordor kan? -_____-
Karena gue gak ngerti ini maksudnya apa, dan gue tanya temen-temenpun mereka hanya tertawa terbahak-bahak dan berhubung waktu mepet bentar lagi jam habis akhirnya gue menjawab:
"Setiap manusia mempunyai 'senjata' yang berguna untuk dirinya. Senjata tersebut adalah akal pikiran manusia yang memang hal tersebut adalah kelebihan manusia dengan makhluk Tuhan lainnya. Dengan akal pikiran yang diberikan oleh Tuhan tersebut dapat digunakan untuk mengembangkan potensi yang ada di dalam diri setiap individu."
XO,
Nia.


0 komentar:
Posting Komentar